Zina adalah hutang…, taruhannya adalah keluarga anda. Lelaki yang
berzina dengan wanita, sejatinya dia telah mencabik-cabik kehortaman
semua lelaki kerabat wanita ini.
Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,
Kita awali dengan sebuah kisah. Kisah nyata yang memberikan pelajaran
kepada kita bahwa kesalahan manusia tidak akan disia-siakan, semua
tinggal menunggu balasan.
Tersebutlah dua orang pemuda…(sebut saja: Qird dan Kalb). Keduanya akrab karena sama-sama rajin maksiat. Saling membantu untuk berpetualang di dunia gemblung (dugem). Celakanya, keduanya telah menikah.
Tersebutlah dua orang pemuda…(sebut saja: Qird dan Kalb). Keduanya akrab karena sama-sama rajin maksiat. Saling membantu untuk berpetualang di dunia gemblung (dugem). Celakanya, keduanya telah menikah.
Suatu ketika, Qird melakukan perjalanan. Setelah berinteraksi dengan
orang sekitar, dia berkenalan dengan seorang wanita. Terjadilah hubungan
gelap diantara mereka. Qird berjanji, suatu hari akan menemui sang
wanita, setidaknya bisa bermalam bersama.
Tiba saatnya untuk memenuhi janjinya. Suasana keluarga juga
mendukung. Diapun pamit ke istrinya, karena ada tugas penting yang harus
dia selesaikan. Dia memohon agar sang istri untuk tinggal sementara di
rumah orang tuanya.
Berangkatlah sang istri yang malang ke rumah ortunya, dan
berangkatlah serigala penipu untuk menjemput wanita simpanan idamannya.
Wanita itu berpesan: ‘Saya ingin kita ngobrol sebentar di taman,
kemudian nanti baru ke rumah.’ ‘Oke, saya setuju.’ Sambut si Qird.
Sepulang dari taman, keduanya melaju ke rumah Qird yang telah
dikosongkan penghuninya. Sesampainya di rumah, ‘Tunggu, tolong carikan
makan – minum dulu.’ pinta si wanita.
Keluarlah Qird dengan penuh semangat menuju rumah makan. Setelah
membeli beberapa makanan dan minuman, diapun bergegas pulang menuju
rumah untuk melampiaskan kenangan indahnya. Segera melaju dengan
mobilnya.
“Priii..tt” ternyata mobil Pak polisi telah menghadang.
“Permisi pak, anda melanggar lalu lintas. Anda melanggar lampu merah.” “Parkir mobil anda, dan ikut kami.”
Setelah sampai di kantor polisi, dia minta izin untuk menghubungi
teman akrabnya. Berdirilah dia di sudut kantor, dan mulai menghubungi
Kalb.
“Sudah… di rumah saya ada tamu istimewa… makan malamnya di mobil.
Mobilnya ada di tempat X..” Lanjut, “Ambil makanan itu, antarkan ke
rumahku…, dan lanjutkan rencana kita.” “Kalo kamu sudah selesai
bersamanya, kembalikan dia ke rumahnya. Saya khawatir istri saya pulang
ke rumah, dan terbongkar semua rahasia ini.”
“Siap, santai saja… selama di sana ada yang istimewa.” Jawab Kalb.
Berangkatlah Kalb, teman yang setia ke rumah Qird.
Setelah menjalani proses sidang yang rumit…, akhirnya Qird berhasil
keluar kantor polisi. Dia bergegas melaju mobilnya dan menuju rumah..
Apa yang dia jumpai…?? Setelah dia pupus untuk mendapatkan impiannya.
Dia segera menggayuh pintu rumah dan memasukinya. Ternyata istrinya
telah di rumahnya. Dan semalam dia bersama teman dekatnya, Kalb. Dia
kaget setengah mati, “Kamu saya cerai tiga…, cerai empat…, cerai seribu
kali..”
Apa yang bisa anda renungkan dari kisah ini…
Ya, karena zina adalah utang…, taruhannya adalah keluarga anda. Itulah yang dinasehatkan Imam As-Syafii.
Dalam Bait Syairnya beliau mengatakan,
عفوا تعف نساءكم في المحْرَمِ ****وتجنبـوا مـا لايليق بمسلـم
إن الزنـا دين إذا أقرضــته **** كان الوفا من أهل بيتك فاعلم
من يزنِ في قوم بألفي درهم **** في أهله يُـزنى بربـع الدرهم
من يزنِ يُزنَ به ولو بجـداره **** إن كنت يا هذا لبيباً فـافهـم
ياهاتكا حُـرَمَ الرجال وتابعـا**** طرق الفسـاد عشت غيرَ مكرم
لو كنت حُراً من سلالة ماجـدٍ**** ما كنت هتـّـاكاً لحرمة مسلمِ
Maaf, jaga kehormatan para wanita yang menjadi mahram kalian *** Hindari segala yang tidak layak dilakukan seorang muslim.
Sesungguhnya zina adalah utang. Jika kamu sampai berani berutang *** Tebusannya ada pada anggota keluargamu, pahami.
Siapa yang berzina dengan wanita lain dan membayar 2000 dirham *** bisa jadi di keluarganya akan dizinai dengan harga ¼ dirham
Siapa yang berzina akan dibalas dizinai, meskipun dengan tebusan tembok *** jika anda orang cerdas, pahamilah hal ini.
Wahai mereka yang merampas kehormatan keluarga seorang *** dan menyusuri jalan maksiat. Anda hidup tanpa dimuliakan.
Jika anda benar-benar bebas dari belenggu pengikat *** tak selayaknya engkau mencabik kehormatan seorang muslim.
Kisah lain…
Suatu ketika ada seorang pemuda yang pamit untuk safar, mencari
pekerjaan demi membantu ekonomi keluarga. Sang ayah berpesan kepada
putranya, “Jaga baik-baik adik perempuanmu.”
Pemuda ini kaget dengan pesan ini. Karena dia berangkat sendirian,
dan adiknya bersama keluarga di rumah. Apa maksud dia harus menjaga adik
perempuannya.
Berangkatlah si pemuda, namun dia juga ternyata belum paham dengan
pesan ayahnya. Setelah berlalu beberapa hari, tiba-tiba sang ayah
melihat ada orang (penjual air) yang mencium anak perempuannya.
Sesampainya pemuda ini pulang ke rumah, sang ayah langsung
menegurnya. “Bukankah saya telah berpesan kepadamu, jaga adik
perempuanmu baik-baik.” “Apa yang terjadi?” tanya putranya keheranan.
“Sejengkal dibalas sejengkal. Andaikan kamu melakukan pelanggaran
lebih dari itu, niscaya si penjual air itu akan melakukan tindakan lebih
kepada anak perempuannya.”
[Kisah ini disebutkan Syaikh Abdurrahman As-Suhaim: www.saaid.net]
Siapapun wanita yang menjadi keluarga kita, sejatinya mereka adalah
kehormatan kita. Ibu anda, istri anda, putri anda, saudari perempuan
anda, bibi anda, dan semua wanita yang menjadi kerabat anda, adalah
kehormatan bagi sang lelaki. Jika salah satu diantara mereka berzina,
sejatinya telah menodai kehormatan sang lelaki.
Untuk itu, jaga kehormatan mereka dengan tidak mengganggu kehormatan
orang lain. Karena zina adalah utang dan taruhannya adalah keluarga
anda.
Abu Umamah menceritakan,
“Suatu hari ada seorang pemuda yang mendatangi Nabi Shalallahu
‘alaihi wassallamseraya berkata, “Wahai Rasulullah, izinkan aku
berzina!”. Para sahabatpun bergegas mendatanginya dan menghardiknya,
“Diam kamu, diam!”. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassallam berkata,
“Mendekatlah”. Pemuda tadi mendekati beliau dan duduk di hadapan beliau.
Nabi Shalallahu ‘alaihi wassallam bertanya, “Relakah engkau jika
ibumu dizinai orang lain?”. “Tidak, demi Allah wahai Rasul” sahut pemuda
itu. “Begitu pula orang lain tidak rela kalau ibu mereka dizinai”.
“Relakah engkau jika putrimu dizinai orang?”. “Tidak, demi Allah wahai
Rasul!”. “Begitu pula orang lain tidak rela jika putri mereka dizinai”.
“Relakah engkau jika saudari kandungmu dizinai?”. “Tidak, demi Allah
wahai Rasul!”. “Begitu pula orang lain tidak rela jika saudara perempuan
mereka dizinai”. “Relakah engkau jika bibimu dizinai?”. “Tidak, demi
Allah wahai Rasul!”. “Begitu pula orang lain tidak rela jika bibi mereka
dizinai”. “Relakah engkau jika bibi dari ibumu dizinai?”. “Tidak, demi
Allah wahai Rasul!”. “Begitu pula orang lain tidak rela jika bibi mereka
dizinai”.
Lalu Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassallam meletakkan tangannya di
dada pemuda tersebut sembari berkata, “Ya Allah, ampunilah
kekhilafannya, sucikanlah hatinya dan jagalah kemaluannya”.
Setelah kejadian tersebut, pemuda itu tidak pernah lagi tertarik
untuk berbuat zina”. HR. Ahmad no. 22211 dan sanadnya disahihkan
Al-Albani.
Siapapun wanita yang berzina, sejatinya tidak mengiris-iris hati
ayahnya, saudaranya, putranya, kakaknya, pakdenya, dan semua mahramnya.
Siapapun lelaki yang berzina dengan wanita, sejatinya dia telah
mencabik-cabik kehortaman semua lelaki kerabat wanita ini. Padahal
diapun tidak akan pernah rela ketika istrinya dizinai, putrinya dizinai,
saudarinya dizinai… renungkanlah hadis Abu Umamah di atas.
sumber : www.konsultasisyariah.com
No comments:
Post a Comment